araz99

Sunday, July 30, 2006

Curhat Seorang Suami

oSebagai orang baru dikantorku, aku berusaha menjadi pendengar yang baik terhadap teman-teman baruku. Dari yang sekedar say hello, nanya dari mana, lulusan mana, sudah berkeluarga, berapa anak, sampai yang curhat.
Siang itu sopir kantor yang giliran datang dan duduk di depan mejaku. Jadilah kisah nyata ini suatu kejadian yang sulit kulupakan.
"15 tahun aku menjadi honorer disini. Setiap gajian orang-orang biasanya gembira dan bahagia, tapi aku malah nangis. Bayangkan, dengan gaji honor Rp 15.000,00 bisa untuk apa. Bayar cicilan rumah, listrik, beli beras, tinggal lima ribu, bisa beli apa untuk hidup sebulan? Bertahap gajiku naik menjadi Rp 75.000,00, kemudian Rp 150.000,00. Tapi anehnya aku bisa bertahan dan buktinya sampai sekarang kami masih bisa hidup. Kami merasa cukup.
Sekarang aku sudah diangkat PNS dengan gaji sejuta lebih, tapi anehnya malah tidak cukup??? Lama aku berfikir dimana salahnya. Ternyata istriku sudah mulai banyak tuntutan. Dia tau suaminya Pegawai Negeri. Kalau dulu kami biasa hidup dan makan seadanya, sekarang mulai ingin lebih. Liat kusen tetangga ganti baru, dia juga ingin ganti baru, gak ada duit malah ngutang. Belum lagi kalau kondangan liat kalung dan gelang tetangga, mulailah dia minta juga untuk dibelikan. Padahal kalau ngutang dan terlambat, bunganya akan naik dua kali lipat. Tau sendiri kan, kalau ibu-ibu ngumpul, maka yang dibicarakan adalah isi rumah, mulai dari kompor gas sampai yang lain-lain. Kemarin dapat gaji 13, total dengan gaji bulan ini jadi Rp 2.500.000,00.
Untuk bayaran anak sekolah satu juta, enam ratus untuk beli sepeda anak, sisanya terpikir oleh istri untuk beli kulkas dan spring bed. Aku bilang tidak cukup dan harus pilih salah satu, tapi dia tetap ngotot untuk beli dua-duanya. Belum lagi kebiasaan anak kalau kesekolah selalu minta uang jajan lima ribu. Dia tidak akan sekolah kalau tidak diberi uang jajan lima ribu. Sering aku bilang ke istriku untuk tidak ikut-ikutan tetangga ngoyo membeli barang-barang baru. Tetangga kita kerja di perusahaan, sedangkan aku biarpun sudah PNS tapi cuma kroco (pegawai rendahan)."
Aku merasa miris mendengar cerita teman ini. Pada awal cerita dengan status honor dan gaji yang kecil sempat membuat mataku berkaca-kaca, tapi begitu masuk kisah keluarganya, aku langsung merasa geli, sedih dan juga kasihan.
Semoga ini menjadi ibroh bagi kita untuk tidak menjadi 'dunia oriented'

Thursday, June 22, 2006

Diri Rasulullah SAW

Biografi Rasulullah SAW

Ummu Ma’bad Al-Khuza’iyah pernah berkata tentang diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia menggambarkan beberapa sifat beliau di hadapan suaminya, saat beliau lewat di kemahnya dalam perjalanannya hijrah ke Madinah, “Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, elok dan tampan, di matanya ada warna hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral bicara, lehernya jenjang, matanya indah, alisnya tipis, memanjang dan bersambung, rambutnya hitam, jika diam dia tampak berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang yang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat, bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakannya sedang-sedang, mata yang memandang tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi, seakan satu dahan diantara dua dahan, dia adalah salah seorang dari tiga orang yang paling menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika dia bicara mereka menyimak perkataannya, jika dia memberikan perintah mereka bersegera melaksanakan perintahnya, dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak memberengut dan tidak pula orang yang diremehkan….”
Ali bin Abu Thalib juga berkata mensifati diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya tebal dan lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnys sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan, telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu kagum kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.” Kemudian dia berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.” Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/401-402
Abuth-Thufail berkata, “Kulitnya putih, wajahnya berseri-seri dan perawakannya sedang-sedang (tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek)”.Shahih Muslim, 2/258
Anas bin Malik berkata, “Kedua telapak tangannya lebar.” Dia juga berkata, “Warna kultnya elok, tidak putih sopak dan tidak terlalu coklat, kuat kepalanya, di kepala atau di jenggotnya hanya ada dua puluh lembar uban.”
Dia juga berkata, “Ada beberapa lembar uban di kedua pelipisnya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan, “Di kepalanya ada beberapa lembar uban yang berpencar-pencar.” Shahih Al-Bukhary, 1/502
Abu Juhaifah berkata, “Kulihat uban di bawah bibirnya yang bawah, yang disebut al-anfaqah.”
Al-Barra’ berkata, “Perawakannya sedang, dua bahunya bidang, memiliki rambut mencapai daun telinga. Kulihat beliau mengenakan jubah warna merah, tidak pernah kulihat yang sebagus itu.”
Pada awal mulanya beliau biasa menggeraikan rambutnya karena kecintaan beliau mengikuti Ahli Kitab, tapi di kemudian hari beliau membelah rambutnya.
Al-Barra’ berkata, “Beliau adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus akhlaknya.” Pada kesempatan yang lain, Al-Barra’ pernah ditanya, “Apakah wajah beliau seperti pedang?” Dia menjawab, “Tidak. Tapi wajah beliau seperti rembulan.”
Ar-Rubayyi’ binti Mu’awwidz berkata, “Saat melihat beliau, seakan-akan aku sedang melihat matahari yang sedang terbit.” Misykatul-Mashabih, 2/517
Jabir bin Samurah berkata, “Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Kupandangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu ganti kupandang rembulan. Ternyata menurut penglihatanku beliau lebih indah daripada rembulan.”Misykatul-Mashabih, 2/518
Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah kulihat sesuatu yang lebih bagus daripada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan matahari berjalan di wajahnya dan tidak pernah kulihat seseorang yang jalannya lebih cepat daripada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seakan-akan tanah menjadi landai bagi beliau. Kami sudah berusaha mencurahkan kekuatan, tetapi seakan-akan beliau tidak terkejar.”
Ka’b bin Malik berkata, “Jika sedang gembira, wajah beliau berkilau-kilau, seakan-akan wajah beliau adalah sepotong rembulan.” Shahih Al-Bukhary, 1/502
Saat sedang berada di dekat Aisyah, beliau berkeringat, hingga membuat raut muka beliau berkilau. Kemudian hal ini digambarkan Abu Kabir Al-Hudzaly dalam syairnya, “Jika kulihat raut mukanya, ada kilau yang memancar disana.”
Setiap kali Abu bakar melihat beliau, maka dia berkata, “Yang terpercaya dan pilihan, kepada kebaikan dia menyeru. Seperti bulan purnama yang mengenyahkan kegelapan.” Jika sedang marah, muka beliau memerah, seakan-akan di kedua tulang pipinya terbelah buah delima.
Jabir bin Samurah berkata, “Kedua lengannya halus dan lembut, jika tertawa hanya tersenyum, dan setiap kali aku memandangnya, maka kukatakan, ‘Dua mata yang bercelak, tapi tidak layaknya celak’.” Misykatul-Mashabih, 4/306
Ibnu Abbas berkata, “Ada celah di antara gigi-gigi serinya. Jika sedang berbicara, terlihat ada semacam cahaya yang memancar dari gigi-gigi seri itu.” Misykatul-Mashabih, 2/518
Leher beliau seperti leher boneka yang terbuat dari perak yang mengkilat, mulutnya indah dan lebar, jenggotnya lebat, keningnya lebar, hidungnya indah, kedua pipinya lembut dan empuk, dari leher depannya hingga ke pusarnya melajur seperti tongkat, hanya di dada dan perutnya yang ada bulunya, lengan dan betisnya juga ada rambutnya, perut dan dada sama-sama bidang, pergelangan tangannya panjang, telapak tangannya lebar, bentuk tulang lengan dan betisnya bagus, telapak kakinya yang tengah melengkung, anggota-anggota badannya panjang, jika badannya condong, maka condongnya itu kuat, langkah-langkah kakinya lebar dan berjalan dengan tenang. Khulashatus-Sair, 19-20
Anas berkata, “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku tidak pernah mencium suatu aroma, minyak kesturi atau bau apa pun yang lebih harum daripada bau dan aroma Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.” Shahih Al-Bukhary, 1/503
Abu Juhaifah berkata, “Aku pernah memegang tangan beliau lalu kutempelkan di wajahku. Ternyata tangan beliau lebih dingin daripada es dan lebih harum daripada aroma minyak kesturi.” Shahih Al-Bukhary, 1/502
Jabir bin Samurah berkata, selagi dia masih kecil, “Beliau pernah mengusap pipiku. Kurasakan tangannya benar-benar dingin dan harum, seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari tempat penyimpanan minyak wangi.” Shahih Muslim, 2/256
Anas berkata, “Butir-butir keringatnya seperti mutiara.” Ummu Sulaim juga berkata, “Keringatnya lebih harum daripada minyak wangi.”
Jabir berkata, “Beliau tidak melewati suatu jalan lalu seseorang membuntutinya, melainkan dia bisa mengetahui bahwa beliau telah lewat, dari keharuman bau keringatnya.” Misykatul-Mashabih, 2/517Di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah seperti telur burung merpati

Kepada Wanita

1. Doa wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang lebih kuat dari lelaki.
2. Wanita yang Sholichah itu lebih baik daripada 1000 orang lelaki yang sholeh.
3. Barang siapa yang menggembirakan anak wanitanya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takutkan Allah.
4. Barang siapa yang membawa hadiah ( oleh-oleh ) lalu diberikan kepada keluarganya, hendaklah mendahulukan anak wanitanya dari anak laki-laki
5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama Rosulullah SAW didalam Syurga.
6. Barang siapa mempunyai 2 atau 3 anak wanita, atau 2 atau 3 saudara wanita lalu dia bersikap ichsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa dan tanggung jawab maka baginya adalah Syurga.
7. Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak wanitanya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka ( Aisyah r.a. ).
8. Syurga dibawah telapak kaki Ibu ( Hadits )
9. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga, maka masuklah dari pintu yang dikehendaki.
10. Wanita yang taat akan suaminya serta menjaga sholat dan puasanya, semua ikan-ikan dilaut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat pada suaminya dan direlakanya.
11. Apabila memanggil akan engkau dua orang Ibu Bapakmu, maka jawablah panggilan Ibumu dahulu.
12. Aisyah r. a. berkata Aku bertanya kepada Rosulullah SAW , siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ? Jawab Baginda, “Suaminya” Siapa pula berhak terhadap lelaki ? Jawab Rosulullah “Ibunya”
13. Wanita apabila sholat 5 waktu, puasa 1 bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu Syurga mana saja yang dia kehendaki.
14. Tiap wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia kedalam Syurga 10.000 tahun lebih dahulu dari suaminya.
15. Apabila seorang wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1000kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
16. Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin, maka Allah SWT mencatatkan baginya pahal orang yang berjihad pada jalan Allah.
17. Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya
18. Apabila telah lahir anaknya lalu disusuinya, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan dari pada susunya diberi satu kebajikan.
19. Apabila ibu semalaman tidak tidur karena memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah .

Kiat Sehat Dari Rasul

Kiat Sehat Ala…. Rasulullah SAW
1. SELALU BANGUN SEBELUM SUBUHRasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum subuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat subuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg mendalam antara lain :- Berlimpah pahala dari Allah- Kesegaran udara subuh yg bagus utk kesehatan/ terapi penyakit TB- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan
2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHANRasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis atau Jum’at beliau mencuci rambut-rambut halus di pipi, selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. “Mandi pada hari Jumaat adalah wajib bagi setiap orang- orang dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai harum-haruman”(HR Muslim)
3.TIDAK PERNAH BANYAK MAKANSabda Rasul :“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak sampai kekenyangan)”(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda : Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk makanan.Bahkan ada satu tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dengan adanya Puasa Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan.
4. GEMAR BERJALAN KAKIRasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir,pori-pori terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini penting untuk mencegah penyakit jantung
5. TIDAK PEMARAHNasihat Rasulullah : “Jangan Marah”diulangi sampai 3 kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatan Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan kesehatan jiwa. Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka duduk, dan bila dudukmaka berbaring- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon- Segeralah berwudhu- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan menghilangkan kegundahanhati
6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASASikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar, istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada Allah SWT
7. TAK PERNAH IRI HATIUntuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa, mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan preventif yang sangat tepat. ” Ya Allah,bersihkanlah hatiku dari sifat sifat mazmumah dan hiasilah diriku dengan sifat sifat mahmudah…”

Monday, June 05, 2006

Catatan Untuk Para Istri

Wanita Penghuni Neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku melihat ke dalam surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir), dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas dan ‘Imran serta selain keduanya).
Hadist ini menjelaskan kepada kita apa yang disaksikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam tentang penduduk surga yang mayoritasnya adalah fuqara (para fakir miskin) dan neraka yang mayoritas penduduknya adalah wanita. Tetapi hadits ini tidak menjelaskan sebab-sebab yang mengantarkan mereka ke dalam neraka dan menjadi mayoritas penduduknya, namun disebutkan dalam hadits lainnya.
Di dalam kisah gerhana matahari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau shallallahu ‘alahi wa sallam melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka, beliau bersabda kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhum : “… Dan aku melihat neraka, maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti itu sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita.” Shahabat pun bertanya : “Mengapa (demikian) wahai Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam?” Beliau shallallahu ‘alahi wa sallam menjawab : “Karena kekufuran mereka.” Kemudian ditanya lagi : “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab : “Mereka kufur terhadap suami-suami mereka, kufur terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang diantara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata : Aku tidak pernah melihat sedikit pun kebaikan pada dirimu.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma).
Dalam hadits yang lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang wanita penduduk neraka, beliau bersabda : “… Dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakekatnya mereka telanjang, melenggak-lenggokkan kepala mereka karena sombong dan berpaling dari ketaatan kepada Allah dan suaminya, kepala mereka seakan-akan seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan wanginya surga padahal wanginya bisa didapati dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu).Dari ‘Imran bin Husain ia berkata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Imam Qurtubhi rahimahullah mengomentari hadits di atas dengan pernyataannya : “Penyebab sedikitnya kaum wanita yang masuk surga adalah hawa nafsu yang mendominasi pada diri mereka, kecondongan mereka kepada kesenangan-kesenangan dunia dan berpaling dari akhirat karena kurangnya akal mereka dan mudahnya mereka untuk tertipu dengan kesenangan-kesenangan dunia yang menyebabkan mereka lemah untuk beramal. Kemudian mereka juga sebab yang paling kuat untuk memalingkan kaum pria dari akhirat dikarenakan adanya hawa nafsu dalam diri mereka, kebanyakan dari mereka memalingkan diri-diri mereka dan selain mereka dari akhirat, cepat tertipu jika diajak kepada penyelewengan terhadap agama dan sulit menerima jika diajak kepada akhirat.” (Jahannam Ahwaluha wa Ahluha halaman 29-30 dan At-Tadzkirah halaman 369).
Jika kita melihat keterangan dan hadits di atas dengan seksama, niscaya kita akan dapati beberapa sebab yang menjerumuskan kaum wanita ke dalam neraka bahkan menjadi mayoritas penduduknya dan yang menyebabkan mereka menjadi golongan minoritas dari penghuni surga. Hindarilah sebab-sebab ini semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari neraka, aamiin.
1. Kufur Terhadap Suami Dan Kebaikan-KebaikannyaRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini pada sabda beliau di atas tadi. Kekufuran model ini terlalu banyak kita dapati di tengah keluarga kaum muslimin, yakni seorang istri yang mengingkari kebaikan-kebaikan suaminya selama sekian waktu yang panjang hanya dengan sikap suami yang tidak cocok dengan kehendak sang istri, sebagaimana kata pepatah : “Panas setahun dihapus oleh hujan sehari.”Padahal yang harus dilakukan oleh seorang istri ialah bersyukur terhadap apa yang diberikan suaminya, janganlah ia mengkufuri kebaikan-kebaikan sang suami karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan melihat istri model begini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. Nasa’i di dalam Al-Kubra dari Abdullah bin ‘Amr. Lihat Al-Insyirah fi Adabin Nikah, halaman 76).Hadits di atas adalah peringatan keras bagi para wanita mukminah yang menginginkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan surga-Nya. Maka tidak sepantasnya bagi wanita yang mengharapkan akhirat untuk mengkufuri kebaikan-kebaikan suaminya dan nikmat-nikmat yang diberikannya atau meminta dan banyak mengadukan hal-hal sepele yang tidak pantas untuk dibesar-besarkan.Jika demikian keadaannya maka sungguh sangat cocok sekali jika wanita yang kufur terhadap suaminya serta kebaikan-kebaikannya dikatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai mayoritas kaum yang masuk ke dalam neraka walaupun mereka tidak kekal di dalamnya.Cukup kiranya istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabiyah sebagai suri teladan bagi istri-istri kaum mukminin dalam mensyukuri kebaikan-kebaikan yang diberikan suaminya kepadanya.
2. Durhaka Terhadap SuamiKedurhakaan yang dilakukan seorang istri terhadap suaminya, pada umumnya berupa tiga bentuk kedurhakaan yang sering kita jumpai pada kehidupan masyarakat kaum muslimin. Tiga bentuk kedurhakaan itu ialah :1. Durhaka dengan ucapan.2. Durhaka dengan perbuatan.3. Durhaka dengan ucapan dan perbuatan.Bentuk pertama ialah seorang istri yang biasanya berucap dan bersikap baik kepada suaminya serta segera memenuhi panggilannya, tiba-tiba berubah sikap dengan berbicara kasar dan tidak segera memenuhi panggilan suaminya. Atau ia memenuhinya tetapi dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak senang atau lambat mendatangi suaminya. Kedurhakaan seperti ini sering dilakukan seorang istri ketika ia lupa atau memang sengaja melupakan ancaman-ancaman Allah terhadap sikap ini.Termasuk bentuk kedurhakaan ini ialah apabila seorang istri membicarakan perbuatan suami yang tidak ia sukai kepada teman-teman atau keluarganya tanpa sebab yang diperbolehkan syar’i. Atau ia menuduh suaminya dengan tuduhan-tuduhan yang bermaksud untuk menjelekkannya dan merusak kehormatannya sehingga nama suaminya jelek di mata orang lain. Bentuk serupa adalah apabila seorang istri meminta di thalaq atau di khulu’ (dicerai) tanpa sebab syar’i. Atau ia mengaku-ngaku telah dianiaya atau didzalimi suaminya atau yang semisal dengan itu.Permintaan cerai biasanya diawali dengan pertengkaran antara suami dengan istri karena ketidakpuasan sang istri terhadap kebaikan dan usaha sang suami. Atau yang lebih menyedihkan lagi bila hal itu dilakukannya karena suaminya berusaha mengamalkan syari’at-syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sunnah-sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sungguh jelek apa yang dilakukan istri seperti ini terhadap suaminya. Ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa ada sebab (yang syar’i, -pent) maka haram baginya wangi surga.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi serta selain keduanya. Lihat Al-Insyirah fi Adabin Nikah, halaman 85).Bentuk kedurhakaan kedua yang dilakukan para istri terjadi dalam hal perbuatan yaitu ketika seorang istri tidak mau melayani kebutuhan seksual suaminya atau bermuka masam ketika melayaninya atau menghindari suami ketika hendak disentuh dan dicium atau menutup pintu ketika suami hendak menemuinya dan yang semisal dengan itu.Termasuk dari bentuk ini adalah apabila seorang istri keluar rumah tanpa izin suaminya walaupun hanya untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Yang demikian seakan-akan seorang istri lari dari rumah suaminya tanpa sebab syar’i. Demikian pula jika sang istri enggan untuk bersafar (melakukan perjalanan) bersama suaminya, mengkhianati suami dan hartanya, membuka dan menampakkan apa yang seharusnya ditutupi dari anggota tubuhnya, berjalan ditempat umum dan pasar-pasar tanpa mahram, bersendau gurau atau berbicara lemah lembut penuh mesra kepada lelaki yang bukan mahramnya dan yang semisal dengan itu.Bentuk lain adalah apabila seorang istri tidak mau berdandan atau mempercantik diri untuk suaminya padahal suaminya menginginkan hal itu, melakukan puasa sunah tanpa seizin suaminya, meninggalkan hak-hak Allah seperti shalat, mandi janabat atau puasa Ramadhan.Maka setiap istri yang melakukan perbuatan-perbuatan tersebut adalah istri yang durhaka terhadap suami dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Jika kedua bentuk kedurhakaan ini dilakukan sekaligus oleh seorang istri maka ia dikatakan sebagai istri yang durhaka dengan ucapan dan perbuatannya dan inilah bentuk kedurhakaan yang ketiga. (Dinukil dari kitab An-Nusyuz karya Dr. Shaleh bin Ghanim As-Sadlan halaman 23-25 dengan beberapa tambahan).Sungguh merugi wanita yang melakukan kedurhakaan ini. Mereka lebih memilih jalan ke neraka daripada jalan ke surga karena memang biasanya wanita yang melakukan kedurhakaan-kedurhakaan ini tergoda oleh angan-angan dan kesenangan dunia yang menipu.Ketahuilah bahwa jalan menuju surga tidaklah dihiasi dengan bunga-bunga nan indah, melainkan dipenuhi oleh rintangan-rintangan yang berat untuk dilalui oleh manusia kecuali orang-orang yang diberi ketegaran iman oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetapi ingatlah di ujung jalan ini ada surga yang Allah sediakan untuk hamba-hamba-Nya yang sabar menempuhnya.Ketahuilah pula bahwa jalan menuju neraka memang indah, penuh dengan syahwat dan kesenangan dunia yang setiap manusia tertarik untuk menjalaninya. Tetapi ingat dan sadarlah bahwa neraka menanti orang-orang yang menjalani jalan ini dan tidak mau berpaling darinya semasa ia hidup di dunia.Hanya wanita yang bijaksanalah yang mau bertaubat kepada Allah dan meminta maaf kepada suaminya dari kedurhakaan-kedurhakaan yang pernah ia lakukan. Ia akan kembali berusaha mencintai suaminya dan sabar dalam mentaati perintahnya. Ia mengerti nasib di akhirat dan bukan kesengsaraan di dunia yang ia takuti dan tangisi.
3. TabarrujYang dimaksud dengan tabarruj ialah seorang wanita yang menampakkan perhiasannya dan keindahan tubuhnya serta apa-apa yang seharusnya wajib untuk ditutupi dari hal-hal yang dapat menarik syahwat lelaki. (Di nukil dari kitab Jilbab Al-Mar’atil Muslimah, halaman 120).Hal ini kita dapati pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wanita-wanita yang berpakaian tetapi hakekatnya telanjang dikarenakan minimnya pakaian mereka dan tipisnya bahan kain yang dipakainya. Yang demikian ini sesuai dengan komentar Ibnul ‘Abdil Bar rahimahullah menyatakan : “Wanita-wanita yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah yang memakai pakaian yang tipis yang membentuk tubuhnya dan tidak menutupinya, maka mereka adalah wanita-wanita yang berpakaian pada dhahirnya dan telanjang pada hakekatnya.” (Dinukil oleh Al-Imam Suyuthi di dalam kitab Tanwirul Hawalik 3/103).Mereka adalah wanita-wanita yang hobi menampakkan perhiasan mereka, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melarang hal ini di dalam firman-Nya : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-perhiasan mereka.” (QS. An-Nur : 31).Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan di dalam kitab Al-Kabair halaman 131 : “Termasuk dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan mereka dilaknat ialah menampakkan hiasan emas dan permata yang ada di dalam niqab (tutup muka/kerudung) mereka, memakai minyak wangi dengan misik dan yang semisal jika mereka keluar rumah …”Dengan perbuatan seperti ini berarti mereka secara tidak langsung menyeret kaum pria ke dalam neraka, karena pada diri kaum wanita terdapat daya tarik syahwat yang sangat kuat yang dapat menggoyahkan keimanan yang kokoh sekalipun. Terlebih bagi iman yang lemah yang tidak dibentengi dengan ilmu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menyatakan di dalam hadits yang shahih bahwa fitnah yang paling besar yang paling ditakutkan atas kaum pria ialah fitnahnya wanita.Sejarah sudah berbicara bahwa betapa banyak tokoh-tokoh legendaris dunia yang tidak beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hancur karirnya hanya disebabkan bujuk rayu wanita. Dan berapa banyak persaudaraan di antara kaum mukminin terputus hanya dikarenakan wanita. Berapa banyak seorang anak tega melawan dan menelantarkan ibunya demi mencari cinta seorang wanita, dan masih banyak lagi kasus lainnya yang dapat membuktikan bahwa wanita model mereka ini memang pantas untuk tidak mendapatkan wanginya surga.Hanya dengan ucapan dan rayuan, seorang wanita mampu menjerumuskan kaum pria ke dalam lembah dosa dan hina terlebih lagi jika mereka bersolek dan menampakkannya di hadapan kaum pria. Tidak mengherankan lagi jika di sana sini terjadi pelecehan terhadap kaum wanita, karena yang demikian adalah hasil dari perbuatan mereka sendiri.Maka dari itu hindarilah tabarruj dan berhiaslah dengan pakaian yang Islami yang menyelamatkan kalian dari dosa di dunia ini dan adzab di akhirat kelak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian bertabarruj dengan tabarrujnya orang-orang jahiliyah pertama dahulu.” (QS. Al-Ahzab : 33).
Masih banyak sebab-sebab lainnya yang mengantarkan kaum wanita menjadi mayoritas penduduk neraka. Tetapi saya hanya mencukupkan tiga sebab ini saja karena memang tiga model inilah yang sering kita dapati di dalam kehidupan masyarakat negeri kita ini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menuntunkan satu amalan yang dapat menyelamatkan kaum wanita dari adzab neraka. Ketika beliau selesai khutbah hari raya yang berisikan perintah untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan anjuran untuk mentaati-Nya. Beliau pun bangkit mendatangi kaum wanita, beliau menasehati mereka dan mengingatkan mereka tentang akhirat, kemudian beliau bersabda : “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakkan kalian adalah kayu bakarnya jahannam!” Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, ia pun bertanya : “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari).Bershadaqahlah! Karena shadaqah adalah satu jalan untuk menyelamatkan kalian dari adzab neraka. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan kita dari adzab-Nya, Amiin. Wallahu ‘alamu bish-shawwab.

Banyak Anak Banyak Rezeki

Banyak Anak Banyak Rezeki

Ada seorang kawan akrab saya yang cerita. Latar belakangnya, dia skeptis dengan pendapat bahwa “banyak anak = banyak rezeki”. OK kita lanjutkan ceritanya; suatu hari dia bertemu dengan seorang ustadz yang sudah lama tidak ditemuinya.Selagi di perbincangan yang menyenangkan itu tersebut bahwa sang ustadz kini anaknya sudah 9 orang.
Kawan saya ini tahu bagaimana kondisi ekonomi sang ustadz. Anaknya ada 9, dan kehidupannya cukup pas-pasan. Maka tidak tertahankan lagi olehnya untuk mencetuskan, “Ustad, bener gak sih bahwa banyak anak itu banyak rezeki ?”, yang dijawab oleh sang ustadz tanpa keraguan, “benar”.Seperti bensin yang tersambar api, kawan saya langsung menyambut, “tapi ustadz kok hidupnya susah ???”
Dengan tenang sang Ustadz menjawab, “Itu karena rezeki & hak milik saya sudah dirampas oleh banyak orang, terutama pejabat yang zalim. Kalau uang rakyat tidak dikorupsi, tidak dipakai untuk membayar hutang luar negeri, tidak dipakai untuk menomboki BLBI 215 trilyun, tidak dirampas oleh pak harto, dst — maka 9 anak ini akan ada banyak rezekinya”.
Kawan saya tercengang.
Saya tertawa terbahak-bahak. Bukan saja karena ternyata akhirnya terbukti sang kawan keliru, setelah diyakininya selama bertahun-tahun. Namun juga karena takjub tentang bagaimana tepatnya jawaban sang ustadz tsb, berdasarkan pada pengalaman saya sendiri.Anak kami ada 4, dan rezeki kami jadi bertambah banyak karena anak-anak ini sewaktu di Inggris. Paling tidak, dari children benefit saja sudah lumayan. Padahal masih ada banyak lagi.
Lalu saya tercenung, karena di negeri non-muslim itu, justru janji Allah swt diwujudkan - karena memang kezaliman penguasa terhadap rakyatnya tidak terlalu parah. Sedangkan di negara mayoritas muslim ini, Indonesia, janji tersebut justru tidak terjadi — karena malah dirampas oleh para penguasa dan segelintir kelompok elitnya.
Saya pribadi kalau sudah berjanji, lalu disabot oleh orang lain sehingga janji tadi gagal ditepati; terus terang saya akan jadi sangat marah. Atasan pun akan saya lawan. Nah, kini bagaimana perasaan Tuhan, rajanya segala raja, ketika ada makhluknya yang dengan sombong mensabotase realisasi janjiNya ?“Well, see you in Hell“, mungkin kira-kira begitu jawabnya he he..So, “banyak anak, banyak rezeki” itu memang benar. But, not here

Sunday, June 04, 2006

Belajar Dewasa Dari Manusia Sulit

Dalam keseharian kita terlalu sering kita berhadapan dengan orang-orang yang diistilahkan dengan ‘manusia sulit’. Manusia yang dengan sifat-sifat keras kepala, suka menghina, selalu memandang rendah orang lain, mau menang sendiri, tidak mau kerja sama, bermulut nyinyir dan orang yang selalu diistilahkan dengan Mr. Complain. Dimata orang ini (Mr. Complain) semua orang disekitarnya tidak ada yang benar, dikeluhkan begini dan begitu. Bukan hanya teman, keluarga, Tuhanpun sering dicomplain. Dari salah profesi, keliru memilih istri, anak-anak yang tidak bisa diurus, bos diperusahaan yang disebut super kampungan, rekan sekerja yang dibilang idiot, pembantu dirumah yang goblok dan banyak lagi. Bekerja dengan orang lain, bahkan termasuk pemilik perusahaanpun tidak ada yang dinilai benar dan pintar. Setiap orang dimata orang ini hanyalah kumpulan manusia yang tidak patut dihargai. Kecuali, tentunya manusia-manusia dengan isi kepala yang sama, atau mau berkorban menyesuaikan diri sepenuhnya. Hasilnya ia memiliki koleksi musuh yang sangat banyak, selalu merasa tidak cocok berada di lingkungan apapun. Sulit sekali bagi manusia jenis ini untuk menerima dengan lapang dada keadaan diri, lingkungan, rezki dan takdirnya.
Ada banyak hikmah yang bisa kita perlajari dari jenis-jenis manusia sulit dalam kehidupan kita. Pertama, manusia sulit dengan segala keburukannya sedang mengajarkan kita betapa menjengkelkannya mereka dan membuat kita menyadari bahwa kita akan menjadi orang yang menjengkelkan jika kita berperilaku seperti mereka. Ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu dengan orang seperti ini, sebenarnya kita semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan seburuk itu. Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Badan dan jiwa kita ibarat karet, pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Demikian juga dengan diri dan jiwa kita, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut dada atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, sebenarnya itu melatih kita untuk menjadi orang yang lebih sabar. Ketiga, disadari atau tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Berhadapan dengan tukang hina atau suka membongkar aib orang lain tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang hobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dijelekkan orang lain. Keempat, manusia super sulit sebenarnya membuka ladang amal yang luas bagi kita. Bagaimana tidak, ketika kita berhasil menasehati mereka untuk meninggalkan sifat-sifat buruknya, sehingga menjadi orang yang lebih baik, bukankah itu salah satu pintu kebaikan. Bahkan yang lebih ekstrimpun ketika kita didzolimi dengan fitnah, ghibah atau diambil hak-hak kita, bukankah itu menjadi simpanan pahala untuk kita tuntut kelak di akhirat apabila tidak termaafkan. Namun yang lebih baik kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, makian dengan hadiah, tentu kemungkinan masuk surga lebih tinggi…

Berbuat Yang Terbaik

BERBUAT YANG TERBAIK
Oleh Abdur Razzaq Ali[1]

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu….”(QS. Azzumar: 55)

Berbuat yang terbaik merupakan kunci sukses dan kebahagiaan seseorang. Ia sering diistilahkan dengan berpikir, bersikap dan bertindak secara professional. David J Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big menasehatkan, agar sebelum kita bertindak dan berbicara, atau dalam hal berfikir dan bersikap, kita teliti apakah itu semua sama dengan apa yang dilakukan oleh pemikir dan orang yang berjiwa besar. Jika tidak ubahlah, sebab itu semua akan menunjukkan apakah kita tergolong kepada kelompok kelas profesional atau kelompok orang yang bernilai rendah.

Dalam pespektif ajaran Islam, berbuat yang terbaik merupakan indikator seorang hamba yang mencari kecintaan Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan sesuatu, dia melakukan dengan sebaik-baiknya.” Maka, adalah penting bagi kita untuk melakukan muhasabah diri, apakah dalam amal ibadah misalnya kita sudah berbuat yang terbaik? Apakah kita sudah mengoptimalkan kekhusyu’an dalam sholat kita, atau sholat kita hanya sekedar penggugur kewajiban? Apakah tilawah Al-Qur’an kita hanya sekedar mencapai target khatam, atau sudahkah kita mentadabburi dari apa yang telah kita baca, untuk selanjutnya kita berazam untuk mengamalkannya? Sudahkah kita mengoptimalkan puasa kita agar mencapai tingkatan bukan sekedar menahan makan, minum dan hubungan suami istri, tetapi juga mempuasakan lidah untuk tidak membicarakan saudara yang lain?, karena kita tidak tahu apakah dia ridha atau benci untuk dibicarakan. Sudahkan kita juga mempuasakan hati kita dan anggota tubuh yang lain dari kesia-siaan?

Kaitannya dengan pengorbanan, sudahkah kita mengorbankan yang terbaik dari apa yang ada pada diri kita untuk Allah dan agamanya? Ataukah selama ini kita hanya memberikan yang tersisa dari harta, waktu, umur dan jiwa kita? Kaitannya dengan mu’amalah, berbuat yang terbaik berarti menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketika kita berbicara atau bergurau, kita koreksi, apakah Rasulullah berbicara dan bergurau seperti itu, ataukah kita sudah termasuk dalam laghwun (kesia-siaan) dan berlebih-lebihan. Berbuat yang terbaik juga harus diwujudkan dalam memberi pertolongan kepada orang lain, bukan hanya pandai meminta tolong. Setiap mukmin semestinya bisa dengan senang hati dan tanggap menawarkan bantuan kepada saudaranya. Menumbuhkan sifat itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan sendiri).

Berbuat yang terbaik juga dalam hal menunaikan amanah dan janji, menepati dan menghargai waktu, ketaatan pada pemimpin (dalam ketaatan kepada Allah), juga dalam menghormati dan menghargai lawan bicara. Tentang hal ini indah sekali Almarhum Buya Hamka menggambarkan mengenai sosok seorang sahabat dalam tulisannya, ”Dia seorang sahabat yang baik, yang tidak pernah membanggakan dirinya, tawadhu’ dan tidak memonopoli pembicaraan. Dia tumpukan sepenuh perhatian untuk mengambil hikmah dan manfaat dari pembicaraan orang lain. Dia berbicara hanya pada saat perlu dan menjawab pertanyaan kalau dia mampu.”
Berbuat yang terbaik adalah cermin syamil-nya pemahaman seseorang terhadap Islam, karena kita sudah terlanjur digelari oleh Allah SWT sebagai umat yang terbaik. Umat yang terbaik tidak akan berpikir, bersikap dan bertindak yang bernilai rendah, namun sebaliknya, akan selalu memberikan yang terbaik bagi umat dan agamanya. Berbuat yang terbaik harus menjadi motivasi bagi setiap pribadi muslim, bukan sebatas mencari cinta dan ridha Allah SWt, tetapi lebih dari itu, dengannya kita juga membahasakan diri kita kepada orang lain beginilah Islam, begini seorang mukmin bermuamalah, begini seorang da’i berbicara dan tersenyum, begini indahnya persaudaraan dalam Islam dan inilah contoh keluarga Islami
[1] Dimuat di majalah Tarbawi Juni 2002