araz99

Sunday, June 04, 2006

Belajar Dewasa Dari Manusia Sulit

Dalam keseharian kita terlalu sering kita berhadapan dengan orang-orang yang diistilahkan dengan ‘manusia sulit’. Manusia yang dengan sifat-sifat keras kepala, suka menghina, selalu memandang rendah orang lain, mau menang sendiri, tidak mau kerja sama, bermulut nyinyir dan orang yang selalu diistilahkan dengan Mr. Complain. Dimata orang ini (Mr. Complain) semua orang disekitarnya tidak ada yang benar, dikeluhkan begini dan begitu. Bukan hanya teman, keluarga, Tuhanpun sering dicomplain. Dari salah profesi, keliru memilih istri, anak-anak yang tidak bisa diurus, bos diperusahaan yang disebut super kampungan, rekan sekerja yang dibilang idiot, pembantu dirumah yang goblok dan banyak lagi. Bekerja dengan orang lain, bahkan termasuk pemilik perusahaanpun tidak ada yang dinilai benar dan pintar. Setiap orang dimata orang ini hanyalah kumpulan manusia yang tidak patut dihargai. Kecuali, tentunya manusia-manusia dengan isi kepala yang sama, atau mau berkorban menyesuaikan diri sepenuhnya. Hasilnya ia memiliki koleksi musuh yang sangat banyak, selalu merasa tidak cocok berada di lingkungan apapun. Sulit sekali bagi manusia jenis ini untuk menerima dengan lapang dada keadaan diri, lingkungan, rezki dan takdirnya.
Ada banyak hikmah yang bisa kita perlajari dari jenis-jenis manusia sulit dalam kehidupan kita. Pertama, manusia sulit dengan segala keburukannya sedang mengajarkan kita betapa menjengkelkannya mereka dan membuat kita menyadari bahwa kita akan menjadi orang yang menjengkelkan jika kita berperilaku seperti mereka. Ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu dengan orang seperti ini, sebenarnya kita semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan seburuk itu. Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Badan dan jiwa kita ibarat karet, pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Demikian juga dengan diri dan jiwa kita, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut dada atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, sebenarnya itu melatih kita untuk menjadi orang yang lebih sabar. Ketiga, disadari atau tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Berhadapan dengan tukang hina atau suka membongkar aib orang lain tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang hobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dijelekkan orang lain. Keempat, manusia super sulit sebenarnya membuka ladang amal yang luas bagi kita. Bagaimana tidak, ketika kita berhasil menasehati mereka untuk meninggalkan sifat-sifat buruknya, sehingga menjadi orang yang lebih baik, bukankah itu salah satu pintu kebaikan. Bahkan yang lebih ekstrimpun ketika kita didzolimi dengan fitnah, ghibah atau diambil hak-hak kita, bukankah itu menjadi simpanan pahala untuk kita tuntut kelak di akhirat apabila tidak termaafkan. Namun yang lebih baik kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, makian dengan hadiah, tentu kemungkinan masuk surga lebih tinggi…

0 Comments:

Post a Comment

<< Home