araz99

Sunday, June 04, 2006

Berbuat Yang Terbaik

BERBUAT YANG TERBAIK
Oleh Abdur Razzaq Ali[1]

“Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu….”(QS. Azzumar: 55)

Berbuat yang terbaik merupakan kunci sukses dan kebahagiaan seseorang. Ia sering diistilahkan dengan berpikir, bersikap dan bertindak secara professional. David J Schwartz dalam bukunya The Magic of Thinking Big menasehatkan, agar sebelum kita bertindak dan berbicara, atau dalam hal berfikir dan bersikap, kita teliti apakah itu semua sama dengan apa yang dilakukan oleh pemikir dan orang yang berjiwa besar. Jika tidak ubahlah, sebab itu semua akan menunjukkan apakah kita tergolong kepada kelompok kelas profesional atau kelompok orang yang bernilai rendah.

Dalam pespektif ajaran Islam, berbuat yang terbaik merupakan indikator seorang hamba yang mencari kecintaan Allah SWT. Dalam sebuah hadits riwayat Baihaqi, Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang apabila melakukan sesuatu, dia melakukan dengan sebaik-baiknya.” Maka, adalah penting bagi kita untuk melakukan muhasabah diri, apakah dalam amal ibadah misalnya kita sudah berbuat yang terbaik? Apakah kita sudah mengoptimalkan kekhusyu’an dalam sholat kita, atau sholat kita hanya sekedar penggugur kewajiban? Apakah tilawah Al-Qur’an kita hanya sekedar mencapai target khatam, atau sudahkah kita mentadabburi dari apa yang telah kita baca, untuk selanjutnya kita berazam untuk mengamalkannya? Sudahkah kita mengoptimalkan puasa kita agar mencapai tingkatan bukan sekedar menahan makan, minum dan hubungan suami istri, tetapi juga mempuasakan lidah untuk tidak membicarakan saudara yang lain?, karena kita tidak tahu apakah dia ridha atau benci untuk dibicarakan. Sudahkan kita juga mempuasakan hati kita dan anggota tubuh yang lain dari kesia-siaan?

Kaitannya dengan pengorbanan, sudahkah kita mengorbankan yang terbaik dari apa yang ada pada diri kita untuk Allah dan agamanya? Ataukah selama ini kita hanya memberikan yang tersisa dari harta, waktu, umur dan jiwa kita? Kaitannya dengan mu’amalah, berbuat yang terbaik berarti menjaga hubungan dengan sesama manusia. Ketika kita berbicara atau bergurau, kita koreksi, apakah Rasulullah berbicara dan bergurau seperti itu, ataukah kita sudah termasuk dalam laghwun (kesia-siaan) dan berlebih-lebihan. Berbuat yang terbaik juga harus diwujudkan dalam memberi pertolongan kepada orang lain, bukan hanya pandai meminta tolong. Setiap mukmin semestinya bisa dengan senang hati dan tanggap menawarkan bantuan kepada saudaranya. Menumbuhkan sifat itsar (mengutamakan kepentingan saudaranya daripada kepentingan sendiri).

Berbuat yang terbaik juga dalam hal menunaikan amanah dan janji, menepati dan menghargai waktu, ketaatan pada pemimpin (dalam ketaatan kepada Allah), juga dalam menghormati dan menghargai lawan bicara. Tentang hal ini indah sekali Almarhum Buya Hamka menggambarkan mengenai sosok seorang sahabat dalam tulisannya, ”Dia seorang sahabat yang baik, yang tidak pernah membanggakan dirinya, tawadhu’ dan tidak memonopoli pembicaraan. Dia tumpukan sepenuh perhatian untuk mengambil hikmah dan manfaat dari pembicaraan orang lain. Dia berbicara hanya pada saat perlu dan menjawab pertanyaan kalau dia mampu.”
Berbuat yang terbaik adalah cermin syamil-nya pemahaman seseorang terhadap Islam, karena kita sudah terlanjur digelari oleh Allah SWT sebagai umat yang terbaik. Umat yang terbaik tidak akan berpikir, bersikap dan bertindak yang bernilai rendah, namun sebaliknya, akan selalu memberikan yang terbaik bagi umat dan agamanya. Berbuat yang terbaik harus menjadi motivasi bagi setiap pribadi muslim, bukan sebatas mencari cinta dan ridha Allah SWt, tetapi lebih dari itu, dengannya kita juga membahasakan diri kita kepada orang lain beginilah Islam, begini seorang mukmin bermuamalah, begini seorang da’i berbicara dan tersenyum, begini indahnya persaudaraan dalam Islam dan inilah contoh keluarga Islami
[1] Dimuat di majalah Tarbawi Juni 2002

0 Comments:

Post a Comment

<< Home