Curhat Seorang Suami
oSebagai orang baru dikantorku, aku berusaha menjadi pendengar yang baik terhadap teman-teman baruku. Dari yang sekedar say hello, nanya dari mana, lulusan mana, sudah berkeluarga, berapa anak, sampai yang curhat.
Siang itu sopir kantor yang giliran datang dan duduk di depan mejaku. Jadilah kisah nyata ini suatu kejadian yang sulit kulupakan.
"15 tahun aku menjadi honorer disini. Setiap gajian orang-orang biasanya gembira dan bahagia, tapi aku malah nangis. Bayangkan, dengan gaji honor Rp 15.000,00 bisa untuk apa. Bayar cicilan rumah, listrik, beli beras, tinggal lima ribu, bisa beli apa untuk hidup sebulan? Bertahap gajiku naik menjadi Rp 75.000,00, kemudian Rp 150.000,00. Tapi anehnya aku bisa bertahan dan buktinya sampai sekarang kami masih bisa hidup. Kami merasa cukup.
Sekarang aku sudah diangkat PNS dengan gaji sejuta lebih, tapi anehnya malah tidak cukup??? Lama aku berfikir dimana salahnya. Ternyata istriku sudah mulai banyak tuntutan. Dia tau suaminya Pegawai Negeri. Kalau dulu kami biasa hidup dan makan seadanya, sekarang mulai ingin lebih. Liat kusen tetangga ganti baru, dia juga ingin ganti baru, gak ada duit malah ngutang. Belum lagi kalau kondangan liat kalung dan gelang tetangga, mulailah dia minta juga untuk dibelikan. Padahal kalau ngutang dan terlambat, bunganya akan naik dua kali lipat. Tau sendiri kan, kalau ibu-ibu ngumpul, maka yang dibicarakan adalah isi rumah, mulai dari kompor gas sampai yang lain-lain. Kemarin dapat gaji 13, total dengan gaji bulan ini jadi Rp 2.500.000,00.
Untuk bayaran anak sekolah satu juta, enam ratus untuk beli sepeda anak, sisanya terpikir oleh istri untuk beli kulkas dan spring bed. Aku bilang tidak cukup dan harus pilih salah satu, tapi dia tetap ngotot untuk beli dua-duanya. Belum lagi kebiasaan anak kalau kesekolah selalu minta uang jajan lima ribu. Dia tidak akan sekolah kalau tidak diberi uang jajan lima ribu. Sering aku bilang ke istriku untuk tidak ikut-ikutan tetangga ngoyo membeli barang-barang baru. Tetangga kita kerja di perusahaan, sedangkan aku biarpun sudah PNS tapi cuma kroco (pegawai rendahan)."
Aku merasa miris mendengar cerita teman ini. Pada awal cerita dengan status honor dan gaji yang kecil sempat membuat mataku berkaca-kaca, tapi begitu masuk kisah keluarganya, aku langsung merasa geli, sedih dan juga kasihan.
Semoga ini menjadi ibroh bagi kita untuk tidak menjadi 'dunia oriented'

1 Comments:
menurut saya, itu adalah reality yang sejatinya sudah berurat akar di masyarakat kita, tak heran ada pepatah yang berbunyi besar pasak dari pada tiang, semakin punya uang, status meningkat, kita semakin tergoda untuk mempunyai ini dan itu, untuk menunjukkan bahwa kita orang yang berkelas.
Post a Comment
<< Home